Radio Dua Arah (QSO) dan Radio Siaran

Eforia jatuhnya Orde Lama seakan membuka cakrawala baru bagi keberadaan dan kehidupan radio amatir di Indonesia. Di mana-mana, paling tidak di kota-kota di Pulau Jawa, pola kebangkitan kembali atau munculnya radio amatir hampir sama: mahasiswa elektro, montir radio, operator radio kapal, operator atau tehnisi PHB berbagai Angkatan atau beberapa orang yang memang otodidak berhasil membuat pemancar, yang kemudian dipakai untuk siaran (broadcast). Bagi yang beruntung, mungkin bisa mendapat komponen atau spareparts prethelan atau yang dicopot dari peralatan telekomunikasi (terutama di band HF) yang sudah di-dump dari ABRI, atau instansi pemerintah (Diperla, Perhubungan udara, Telkom dsb.), atau membongkar gudang di rumah orang tua (atau mertua) untuk mencari bekas atau sisa bongkaran TV hitam putih atau radio tua untuk diambil trafo atau varco-nya; atau memang harus tlaten berburu ke pasar loak.

Di Jakarta ada Pasar Senen (yang kemudian pindah ke Poncol), pinggiran jalan Minangkabau sampai dekat pintu air Manggarai, kemudian belakangan di ujung Jalan Matraman di bawah jembatan kereta api sampai ke lapangan Urip Sumoharjo; di Bandung ada Jatayu dan (kemudian) Cikapundung; di Surabaya ada Pasarturi dan sepanjang rel KA di daerah JI Demak; dan pasti ada juga di tempat atau kota-kota lain, walaupun tidak seterkenal ketiga "surga komponen" yang disebut di atas. Perkembangan selanjutnya dimana-mana juga menuruti pola yang nyaris sama: putar lagu, kirim-kiriman salam, atau bagi yang "jell" dalam menangkap setiap kesempatan lantas jual kupon (stensilan, zaman itu belum ada mesin fotokopi) untuk acara "anda memilih, kami memutar", atau membuka kesempatan bagi mereka yang mau beriklan di udara, suatu fenomena baru di zaman itu yang ternyata cukup banyak peminatnya. Kelompok-kelompok yang lebih serius banyak yang memilih untuk kemudian mendirikan "radio siaran", yang pada awalnya sarat dengan semangat "perjuangan untuk menegakkan orde baru", seperti Radio Suanara di Gedung Kesenian, Radio AMPERA, Radio ARH di Cikini, atau yang jelas-jelas menyebut nama "stasiun"nya sebagai REXSOB (Radio Experimen SUARA ORDE BARU) di salah satu kota di Jawa Timur.

Pada jaman itu masyarakat awam yang !ewat di depan sebuah rumah dan melihat tang bambu dengan bentangan kawat (kadang-kadang di ujung kawat ditempelkan lampu neon bekas) di atasnya, mereka selalu mengasosiasikannya dengan sebutan Radam (radio amatir) atau Radeks (radio eksperimen), tanpa tahu (apalagi memahami) apa yang sebenarnya yang ada di belakang kedua sebutan itu.

Kenyataannya, Radam dan Radeks itulah yang pada perkembangannya kemudian menjadi embrio dari tumbuhnya berbagai aliran yang muara¬nya memang berbeda.

Sebagian besar Radam dan Radeks di siang dan sore hari tersebut memang menjadi radio siaran, tapi begitu malam semakin larut - katakanlah selepas jam 23.00 - mereka akan bergeser ke sekitar 3 Mc (belum lazim disebut MHz) dan mulai saling "calling", memanggil atau mencari "lawan" untuk saling "radio check", bertukar berbagai informasi tentang kinerja perangkat masing-masing, atau dengan berbagai cara menguji sejauh mana perubahan pada perangkat maupun antena dapat memperbaiki (atau terkadang malah mengurangi) kwalitas pancaran-nya - yang tentunya akan membawa kebanggaan tersendiri, apapun hasil yang dicapai.

Sebagian terbesar (kalau tidak bisa disebutkan SEMUANYA) pemancar yang mengudara waktu itu adalah buatan sendiri (baru kira-kira 1-2 tahun kemudian istilah hombrew mulai dikenal), atau paling tidak dibuatkan oleh salah seorang di antara "kelompok" mereka (biasanya tehnisi dari "radio siaran" tersebut, yang karena satu dan lain hal tidak bisa ikut melakukan "koling-kolingan" sendiri).

Hari demi hari berjalan, entah siapa yang memulai, pelan-pelan mereka tergiring untuk "buka warung" dan saling calling CQ difrekwensi antara 3.500 - 3.900 MHz, atau yang tercantum sebagai 80m AMATEUR BAND di papan gelombang receiver mereka seperti yang disebut di depan.

Kembali entah siapa yang memulai, di situlah mereka saling belajar hal¬hal yang bersifat tehnis, atau juga mempelajari operating procedure atau tata cara ber-CQ CQ CQ yang benar.

hap malam, kalau frekwensi sudah tidak terlalu crowded, di sana sini bisa didengar seorang yang dengan sabar memberitahu (BUKAN mengajari) rekannya tentang cara mengatur tegangan bias atau mengurang tegangan di screen grid, atau mendiktekan urutan kaki-kaki (pin) tabung GU-50 buatan Rusia, atau mendiktekan terminoloji radio amatir seperti Q-code serta saling mempraktekkan bagaimana membe-dakan pemakaian istilah QRM dan QRN. Di beberapa frekwensi mulai terdengar mereka yang belajar ber-QSO dengan mode CW. Aroma RADIO AMATIR yang sebenarnya pelan-pelan mulai merasuk, tanpa sadar mereka belajar memaknai kode etik amatir radio, yang antara lain ditandai dengan sifat progresip (selalu bertanya dan ingin tahu hal-hal baru), yang lebih tahu dengan sabar dan ramah melayani pertanyaan mereka yang merasa pengetahuannya masih kurang. Kalau pembicaraan melalui frekwensi dirasakan masih kurang, tidak jarang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan di"darat" (istilah kopdar (kopi darat), atau eyeball QSO baru belakangan dikenal dan jadi populer).

Perkembangan lain, tidak sedikit pula di antara mereka yang kurang tertarik dengan hal-hal yang berbau tehnis, atau kehidupan 'ngalong (bergadang sampai pagi di depan rig) yang dilakoni rekan yang "gila QSO", yang kemudian memilih untuk tetap berada dan menekuni dunia RADIO SIARAN. Mereka belajar sisi-sisi regulasi, perizinan, organisasi dan tata kelola broadcasting yang balk dan benar, sehingga pelan-pelan muncullah setasiun-setasiun broadcast yang dikelola dengan balk dan profesional.

Di lain fihak, masih lebih banyak lagi di antara mereka yang memilih untuk tetap berada di luar pagar, yang mengadakan siaran secara sporadis pada frekwensi atau gelombang yang "'nggak boleh liat frekwensi kosong", dengan "siaran" yang paling-paling hanya diisi dengan memutar lagu (yang kemudian ditinggal begitu saja "mantheng sinyal", karena "operator"nya pergi dengan menenteng radio jinjing untuk "monitor" kwalitas pancarannya dari kejauhan). Mereka ini memang tidak terlalu peduli dengan peraturan (karenanya mereka juga segan untuk bergabung di 80m yang disebut "terlalu banyak aturan" dan "kebanyakan orang sok pinter"). Perhatian dan kepentingan mereka hanya terbatas kepada kepuasan melihat dan mendengar hasil oprekan barang rakitan sendiri itu.

Kelompok inilah yang kemudian menjadi embrio dari kelompok cepekan, sebutan bagi mereka yang mengudara di sekitar gelombang 100 meter. Banyak di antara mereka yang sebenarnya dibekali pengetahuan tehnis dan homebrewer yang baik, seperti yang bisa diamati dari polah derivasi ("turunan") mereka yang sampai sekarangpun masih suka muncul dengan perangkat SSB rakitan sendiri di 80m.

(dalam perkembangannya, munculnya kemudian istilah "penthung-penthungan" dan "dunk-dunk-pret" adalah merupakan imbas dari hasrat sebagian dari mereka untuk menunjukkan eksistensinya, serta keinginan "bawah sadar" untuk mendapatkan pengakuan atas prestasi atau "hasil oprekan"nya).

Memang banyak juga diantara mereka yang kemudian "insyaf", mau ikut UNAR (ujian negara amatir adio) untuk bergabung ke ORARI, organisasi amatir radio yang syah dan diakui Pemerintah.

Banyak diantara mereka yang kemudian berubah penampilan dengan menjadi amatir radio yang baik, dengan tetap mempertahankan tradisi homebrewing-nya, atau lebih concern dengan sisi-sisi tehnis dari hobi ini.

Beberapa yang lain lebih memilih bergabung ke RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia), di mana mereka bisa tetap menyalurkan hobi berkomunikasi dan sating menge-check kinerja perangkat dan hasil eksperimennya - walaupun sekarang boleh dibilang yang bisa dieksperimen tinggal antena atau bikin booster saja, karena kebanyak-an mereka sudah memakai perangkat buatan pabrik, bahkan perangkat yang sebenarnya dirancang untuk bekerja di band amatir.

ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia

Gedung Prasada Sasana Karya
Jl. Suryopranoto No. 8 - Jakarta 10130
Telp. : +62 21 6326788
Fax. : +62 21 6326785
Email : hq@orari.or.id
Facebook   Twitter   Google Plus   Pinterest   Youtube  
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Copyright © 2016 ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Seluruh materi dan konten dilindungi oleh hukum atas hak cipta
Organisasi Amatir Radio Indonesia Pusat
ORARI is a member of International Amateur Radio Union Region 3
Orari Pusat RSS   |   Member Update RSS   |   RSS   |   Atom
To Top