Periode Hindia Belanda

Mengikuti kemajuan pesat di bidang radio telekomunikasi di Eropah dan Amerika, di zaman Indonesia masih menjadi koloni negeri Belanda, Pemerintah Hindia Belanda pun sudah menyadari pentingnya radio sebagai sarana penyampaian informasi dan berkomunikasi, baik untuk di dalam negeri maupun dengan negeri "induk"-nya di Eropah.

Stasiun "kawatmedara" (radio telegrafi) pertama dibangun Pemerintah Hindia Belanda di Pulau Weh (teluk Sabang, Aceh, selesai tahun 1911), Sampai tahun 1913 stasiun-stasiun lain dibangun dan dioperasikan di Weltevreden, Situbondo, Kupang dan Ambon, dengan cakupan yang meliputi hampir seluruh kawasan Nusantara.

Stasiun radio pemancar dan penerima lengkap dengan antenna farm-nya kemudian di bangun di pinggiran kota Bandung, yaitu di Dayeuh-kolot (stasiun pemancar, dengan beberapa buah perangkat arc trans-mitter berkekuatan 200 dan 2.400 kW), Rancaekek (penerima) dan G. Malabar (stasiun relay).

Transmisi antara kedua negeri pada saat itu menggunakan rentang gelombang panjang (LW, long wave: 6.100 mtr), karenanya diperlukan lahan berhektar-hektar untuk membentang antena yang sampai sekarang masih bisa dilacak bekas-bekasnya di sekitar pinggiran kota Bandung.

Merintis karirnya di Hindia Belanda sejak tahun 1908, CJ de Groot (1883-1927) - insinyur muda lulusan TH (Technische Hoogeschool) Delft - waktu itu jadi Pimpinan Proyek pada hampir semua proyek pembangunan stasiun-stasiun tersebut.

Terobosan bersejarah untuk melakukan komunikasi di gelombang pendek (SW, short wave) terjadi pada tahun 1925, waktu CJ de Groot (yang amatir radio sejak umur 15 tahun) dengan pemancar 800 watt buatan Telefunken dan receiver yang dimodifikasinya sendiri berhasil menjalin hubungan radio langsung dari kompleks Malabar dengan Nicolaas Koomans (1879-1945) yang memancar dengan perangkat homebrew dari Lab-nya di Den Haag, Nederland.

Komunikasi ini cukup bersejarah, karena selain merupakan komunikasi langsung jarak jauh (DX) yang pertama antara kedua negeri yang dilakukan di gelombang pendek, juga membuktikan ramalan mereka berdua bahwa pancaran di gelombang pendek jauh lebih efisien ketimbang pancaran di gelombang panjang ataupun medium.

Walaupun sehari-hari berurusan dengan pancaran gelombang panjang, pada tahun 1916 de Groot mendapatkan gelar Doktor dengan judicium Cum laude dari TH Delft berkat disertasinya tentang kemungkinan komunikasi langsung di gelombang pendek antara kedua negeri, sedangkan Koomans (tahun 1934 diangkatjadi Profesor di TH Delft juga) dikenal sebagai salah satu pionir di negeri Belanda dengan berbagai eksperimen pancaran radio-telefoni di band HF yang ditekuninya sejak tahun 1908.

ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia

Gedung Prasada Sasana Karya
Jl. Suryopranoto No. 8 - Jakarta 10130
Telp. : +62 21 6326788
Fax. : +62 21 6326785
Email : hq@orari.or.id
Facebook   Twitter   Google Plus   Pinterest   Youtube  
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Copyright © 2016 ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Seluruh materi dan konten dilindungi oleh hukum atas hak cipta
Organisasi Amatir Radio Indonesia Pusat
ORARI is a member of International Amateur Radio Union Region 3
Orari Pusat RSS   |   Member Update RSS   |   RSS   |   Atom
To Top